Pesan Wabup Gonzalo ke Petani: Kalau Ada Kendala Jangan Ribut di Medsos

Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada saat bersama petani di Desa Towak, Kecamatan Aesesa.

Nagekeo, FloresFiles.com— Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada meminta kepada masyarakat petani di Nagekeo agar tidak boleh ribut di media sosial manakala menemui kendala atau persoalan yang terjadi di lapangan. Gonzalo minta kepada petani untuk segera melaporkan ke Dinas terkait jika terjadi masalah.

“Jangan ribut-ribut di medsos, sedikit-sedikit di medsos, sampaikan secara baik kepada Dinas Pertanian,” pesan Gonzalo kepada petani saat dirinya menghadiri peletakan batu saluran irigasi di Desa Waekokak Kecamatan Aesesa, Senin, (22/09/2025).

Pembangunan saluran irigasi tersebut merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Nagekeo, NTT, melalui Dinas Pertanian dalam mendorong Optimalisasi pemanfaatan lahan non rawa. Optimalisasi lahan non rawa ini, sebagai salah satu upaya pemerintah dalam memanfaatkan potensi sumber daya air irigasi untuk peningkatan indeks pertanaman.

Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada menyebut pemanfaatan lahan non rawa merupakan bagian daripada kita pemerintah dalam upaya peningkatan produksi dan produktifitas tanaman pangan yang pada akhirnya dapat meningkatkan swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Gonzalo terus menghimbau agar masyarakat selalu siap menerima program dan kegiatan dari Pemerintah Pusat yang mana pada Tahun 2026 melalui Kementerian Pertanian RI akan mengalokasikan Pencetakan Sawah Rakyat (CSR) di Nagekeo seluas 600 hektar yang tersebar di 3 Kecamatan yakni Kecamatan Aesesa, Boawae dan Nangaroro.

“Berbagai persyaratan pun harus dipenuhi diantaranya lahan harus clean and clear, tidak bermasalah. Pemerintah Kabupaten Nagekeo siap memfasilitasi semua kebutuhan masyarakat dengan tetap berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan yang ada” ujarnya.

Senada dengan Gonzalo, Kepala Dinas Pertanian, Primus Nuwa kembali mengingatkan agar bisa hindari persoalan-persoalan sosial dimana status lahan dan lainnya harus sudah clean dan clear sehingga tidak mengganggu waktu pelaksanaan dilapangan, diupayakan target 350 ha bisa terealisasi.

“Terutama menyangkut masalah sosial jangan sampai saat pelaksanaan, terjadi keributan. Karena terus terang untuk daerah kita, selalu diingatkan untuk masalah sosial yang menjadi kendala. Harus clear dan clean, ” jelas Primus.

Ia juga ingatkan para petani bahwa yang dibangun adalah saluran irigasi teknis bukan irigasi desa. Oleh karena itu, ada mekanisme yang diatur oleh pemerintah, terutama hindari pembangunan pemukiman di sepanjang saluran irigasi yang akan dikerjakan.

“Daerah ini sudah bagus, sejauh mata memandang tidak ada pohon-pohon. Jangan kita jadikan lahan irigasi dengan lahan perkebunan. Terutama jalan tani tidak boleh ada tanaman, “tegasnya.

“Dari daerah selatan jangan sampai pindahkan kelapa kesini, dilarang keras ada pemukiman di lahan irigasi, dilarang alih fungsi lahan komoditi, fokus di padi, “tambahnya.

Primus juga berharap para petani dapat menjaga mutu dan spesifikasi dengan skema pengelolaan Swakelola, untuk itu diharapkan semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik sesuai juknis yang ada dan tepat waktu.

“Hari Orang Kerja (HOK) kita yang kerja kita yang dapat upah, jaga kualitas. Kerja ditargetkan waktu. Jadi tidak boleh di pihak ketiga kan sehingga mulai dari pengadaan material dan seterusnya minimal sesuai petunjuk,” imbuhnya.

Untuk diketahui, saluran irigasi di Poktan Rowet Permai dengan total 2.400 meter panjang ini, akan dikerjakan sepanjang 840 meter panjang dengan anggaran sebesar Rp.611.800.000 yang ditargetkan dalam waktu dua bulan pekerjaan selesai.

Sedangkan sumber dana kegiatan optimasi lahan non rawa ini adalah dari Tugas Pembantuan Dinas Pertanian dan Ketahanan Provinsi NTT. Optimasi ini bertujuan untuk peningkatan fungsi jaringan irigasi drainase di luar sistem irigasi teknis, Rehabilitasi dan atau pembangunan pintu air pembangunan pengambilan air box bagi di luar sistem irigasi teknis, Rehabilitasi dan atau pembuatan penampung air.

Kegiatan ini tersebar di kecamatan Aesesa dan Kecamatan Boawae. Total Anggaran yang di alokasikan untuk fisik konstruksi sebesar Rp15.272.000.000,- dengan total luas lahan yang diintervensi seluas 3.320 hektar.

Untuk pekerjaan utama Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier dan Kuarter serta Box Pembagi dengan jumlah Kelompok Tani pelaksana Optimasi Lahan Non Rawa sebanyak 42 lokasi. Pekerjaan ini dilakukan dan dikerjakan secara Swakelola oleh P3A bersama seluruh anggotanya.