Usulan Musrenbang Tak Digubris Pemerintah, Warga Towak Kecewa 

Pemerintah hanya datang ke Musrembangkel lalu hilang tanpa jejak

Lura Towak Marcelinus Denny, Photo dok: FloresFiles (anyo)

Mbay, FloresFiles– Kekecewaan mendalam menyelimuti warga Kelurahan Towak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. Usulan mereka melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), yang diajukan ke Dinas Peternakan berupa bantuan ternak, hingga kini tak kunjung mendapat tindak lanjut. Padahal, usulan itu adalah kebutuhan mendesak bagi warga yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan peternakan.

Bagi masyarakat, diamnya pemerintah daerah terhadap aspirasi ini menjadi bukti lemahnya perhatian terhadap kebutuhan dasar rakyat kecil. “Kami berharap usulan yang sudah dikirim bisa mendapat perhatian. Warga Towak sangat membutuhkan dukungan dan bantuan untuk pengembangan ternak,” ungkap Lurah Towak, Marcelinus Denny, Selasa 23 September 2025.

Ironisnya, tahun ini Towak hanya mendapat satu program bantuan material bak penampung air dalam tanah senilai Rp 200 juta dari Dana Alokasi Umum Spesifik Grant (DAU-SG) Pemerintah Pusat. Namun bantuan itu pun masih belum bisa dirasakan karena terhambat urusan administrasi di tingkat Pemerintah.

“Eksekusinya menunggu perubahan anggaran untuk perbaikan nomenklatur program. Sementara untuk dana dari daerah saya tidak tahu, apakah PU, Pertanian, atau dinas lain ada program di Kelurahan Towak, saya juga kurang tahu,” tambahnya blak-blakan.

Kondisi ini membuat masyarakat semakin geram. Bantuan yang sudah jelas nilainya pun masih tertahan di meja birokrasi, apalagi usulan Musrenbang yang nasibnya belum jelas.

Warga pun melayangkan kritik tajam. Mereka menilai pemerintah terlalu sibuk dengan istilah teknis dan alasan prosedural, sementara kebutuhan rakyat dibiarkan menggantung tanpa kepastian.

“Pemerintah jangan hanya hadir saat Musrenbang lalu hilang tanpa kabar. Kami tidak butuh janji, kami butuh bukti nyata yang bisa dirasakan di lapangan,” ujar Maksimus Jambo, warga Dheru, Kelurahan Towak.

Bagi Maksimus dan warga lainnya, air bersih dan bantuan ternak bukanlah permintaan mewah. Itu adalah kebutuhan pokok. Tanpa air, warga kesulitan hidup sehat. Tanpa ternak, ekonomi keluarga mereka terhenti.

Kritik juga datang dari Ketua LPMK Kelurahan Towak, Herman Kamis. Ia menegaskan bahwa Musrenbang tingkat kelurahan (Musrenbangkel) sebelumnya sudah menetapkan prioritas utama: bantuan ternak dan air bersih. Namun sayangnya, hasil itu seperti hilang dalam proses panjang di tingkat kabupaten.

“Musrenbangkel kemarin kami fokus pada bantuan ternak dan air bersih. Ke depan, kami juga berharap ada pembangunan embung, peningkatan jalan lingkungan, serta akses jalan yang layak menuju lokasi ternak,” jelas Herman.

Kondisi ini menegaskan satu masalah klasik: Musrenbang sering kali hanya jadi acara seremonial tahunan. Aspirasi rakyat dikumpulkan, dicatat, lalu berhenti tanpa kabar ketika memasuki tahap eksekusi di tingkat kabupaten atau provinsi.

Meski kecewa, warga Towak tidak ingin kehilangan harapan. Mereka masih percaya bahwa pemerintah bisa hadir dengan langkah nyata, bukan sekadar janji. Mereka mendesak agar pemerintah daerah segera mempercepat proses administrasi dan menindaklanjuti hasil Musrenbang yang sudah jelas prioritasnya.

Harapan sederhana mereka: agar air bersih tersedia, ternak berkembang, jalan diperbaiki, dan kehidupan warga lebih layak. “Kami tidak meminta yang muluk-muluk, hanya agar janji pemerintah benar-benar diwujudkan, bukan sekadar tulisan di kertas Musrenbang,” ujar Elias Pita saat ditemui media.

Kini, masyarakat Towak menunggu. Menunggu apakah pemerintah akan benar-benar turun tangan atau kembali membiarkan aspirasi mereka tenggelam dalam tumpukan dokumen Musrenbang yang tak kunjung ditindaklanjuti. (Anyo)