Mbay, FloresFiles— Kamis 25 September 2025 pagi, suasana di Kantor Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT dipenuhi antusiasme warga. Sebanyak 29 orang rombongan Tim Penggerak PKK dari pusat, Provinsi, dan Kabupaten datang berkunjung meninjau langsung Posyandu berbasis siklus hidup yang menjadi inovasi pelayanan kesehatan di Kelurahan ini.
Rombongan dipimpin Staf Ahli TP PKK Pusat, Yane Bima Arya didampingi Ketua TP PKK Provinsi NTT dan pengurus TP PKK Kabupaten Nagekeo. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Camat Aesesa, Lurah Danga, jajaran perangkat kelurahan, kader PKK, dan ratusan warga yang dengan antusias mengikuti kegiatan.
Dalam kunjungan itu, PKK Pusat mengaku kagum sekaligus terkejut dengan pola layanan posyandu di Danga yang aktif dari Senin hingga Sabtu. Pola ini berbeda dengan posyandu pada umumnya yang hanya buka sebulan sekali.
Staf Ahli TP PKK pusat Dr. Yane Ardian yang juga istri Wakil Menteri Bima Arya Sugiarto, meminta agar inovasi tersebut mendapat perhatian lebih.
“Kami harap Ketua PKK Provinsi NTT dan Ketua PKK Nagekeo segera berkomunikasi dengan gubernur dan bupati. Posyandu seperti ini harus didukung penuh agar memenuhi 6 Standar Pelayanan Minimum (SPM),” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi dorongan sekaligus kritik agar pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan inisiatif lokal, tetapi memberi dukungan nyata pada layanan kesehatan masyarakat.
Lurah Danga, Yohanes Lado, menjelaskan bahwa program Posyandu Inovasi Danga Sehat lahir karena keterbatasan fasilitas. Dengan jumlah penduduk 7.867 jiwa yang tersebar di 42 RT dan akses ke puskesmas yang cukup jauh, warga kesulitan mendapatkan layanan kesehatan tepat waktu.
“Sejak 1 November 2024, kami meluncurkan posyandu berbasis siklus hidup. Tidak hanya untuk ibu hamil, tapi juga balita, remaja, hingga lansia. Tujuannya agar semua lapisan masyarakat mendapat layanan yang menyeluruh,” jelas Yohanes.
Program ini juga mendukung kebijakan nasional Integrasi Layanan Primer (ILP) yang menekankan pemerataan layanan kesehatan dari tingkat keluarga.
Kesuksesan program ini tak lepas dari peran kader PKK. Mereka secara rutin mendata, mengedukasi, hingga mengajak warga hadir dalam kegiatan bulanan.
Seorang kader menuturkan, “Kami berusaha keras agar semua warga, mulai ibu hamil hingga lansia, mendapat layanan yang layak. Sekarang warga lebih paham soal gizi seimbang dan hidup sehat,” katanya.
Meski demikian, kader kerap bekerja dengan fasilitas terbatas dan insentif minim. Dedikasi mereka menjadi pilar utama keberlangsungan program ini.
Selain meninjau kegiatan, PKK Pusat juga menyerahkan bantuan khusus untuk pemenuhan gizi anak dan ibu hamil. Warga menyambut gembira bantuan ini, mengingat masalah gizi dan stunting masih menjadi persoalan serius di Nagekeo.
Namun, warga juga berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada pembagian bantuan semata, tetapi hadir dalam bentuk kebijakan berkelanjutan dan dukungan anggaran yang jelas.
Bagi masyarakat Danga, kunjungan ini menjadi semangat baru untuk terus menjaga pola hidup sehat. Mereka berharap program posyandu siklus hidup dapat menjadi model percontohan bagi kelurahan lain di Kabupaten Nagekeo.
Seorang tokoh masyarakat menegaskan, “Kami percaya posyandu harus jadi pusat pelayanan sekaligus edukasi. Tapi ini hanya bisa berjalan baik kalau pemerintah benar-benar serius mendukung,” katanya.
Kunjungan PKK Pusat ini tidak hanya menjadi simbol dukungan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat komitmen antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun kesehatan dari tingkat keluarga hingga jenjang yang lebih luas. (Anyo )











