Nagekeo, FloresFiles— Ini pelajaran bagi anak-anak muda, para remaja maupun orang tua yang suka minum minuman keras (Miras) baik yang minum sendirian ataupun berkelompok. Mau minum juga baik, tidak ada yang larang.
Akan tetapi, kalau memang sudah mabuk, kondisi tubuh sudah dipengaruhi minuman keras, biasanya orang yang minum ini tampak kehilangan kendali diri. Bicara mereka kacau, langkah sempoyongan, dan emosi mudah tersulut tanpa sebab yang jelas.
Jika sudah sampai di titik ini (mabuk berat red-) maka sebaiknya pulang tidur, sebab hasilnya akan lebih aman baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain yang ada di sekitar.
Sebab, sudah banyak kasus yang terjadi akibat mabuk, seperti pengeroyokan, pengerusakan, perkelahian hingga penyerangan padahal dipicu masalah sepele hanya karena salah paham ataupun tersinggung.
Tidak sedikit kasus-kasus seperti ini berujung pada laporan Polisi hingga para pelaku dipenjara atau bahkan denda adat yang mengakibatkan kerugian material tidak sedikit.
Dalam keadaan mabuk, para pelaku biasanya garang, ngeyel dan pandai berbicara seolah yang paling hebat dan benar sendiri. Akan tetapi giliran diciduk Polisi, muka langsung berubah pucat, macam tikus kecebur di got. Ketika sadar, para pelaku mulai menyesal dan menyadari perbuatannya.
“Coba tadi malam saya jangan ikut baik” mungkin demikian batin para pelaku jika sudah digelandang Polisi.
Nah, kasus serupa kembali terjadi di Kampung Mulakoli, Desa Mulakoli, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin 29 Desember 2025 malam sekitar pukul 02:00 dini hari.
Diduga akibat pengaruh alkohol, puluhan anak muda usai mengkonsumsi miras bukannya bubar dengan aman, malah pergi menyerang rumah warga. Sadisnya lagi, puluhan pemuda yang dipimpin oleh seorang pria berinisial O ini dilakukan saat pemilik rumah sedang tertidur lelap.
Rumah yang menjadi sasaran amukan para preman kelas kampung ini adalah rumah milik Stefanus Nuga warga Mulakoli.
“Mereka yang masuk sampai ke dalam rumah sekitar 20 orang, banyak sekali yang dari luar teriak-teriak lempar seng, kasi rusak semua pintu jendela” ujar Yunitha, putri sulung Stefanus kepada media ini, Rabu 31 Desember 2025.
Sembari mengirimkan bukti-bukti video saat para terduga pelaku dengan sadisnya mengganggu ketenangan penghuni rumah tengah malam, Yunita mengatakan alasan mereka menyerang rumah Bapaknya itu disinyalir akibat masalah sepele, salah paham dan tersinggung.
Ceritanya, malam itu ada hajatan pesta Nikah masal di Mulakoli. Pesta Nikah dilaksanakan di beberapa titik. Stefanus Nuga punya anak laki-laki bernama Fred. Malam itu, Iparnya Fred yang bernama Rian dari Desa Nangadhero, Mbay, datang menghadiri acara pesta. Rian datang tidak sendirian melainkan ditemani beberapa orang kawan-kawannya salah satunya bernama Agung.
Setelah mengikuti acara mereka pulang, ingin menginap di rumah Fred. Rian dan beberapa orang temannya pulang jalan kaki sementara Agung dan dua orang lainya menggunakan satu sepeda motor. Karena baru pertama kali ke Mulakoli, Agung nyasar. Ia kemudian berpapasan dengan tiga orang pemuda salah satunya berinisial J.
Agung kemudian menanyakan rumah Alfred. Karena dalam keadaan mabuk, J mengira Agung cari gara-gara. Pertengkaran pun tak terelakkan. Tanpa tedeng aling, J langsung melepaskan beberapa kali pukulan ke wajah Agung. “Pukul empat kali’ kata Fred saat dihubungi media ini Rabu 31 Desember 2025.
Tak ingin memperpanjang masalah, Agung dan kedua temannya lantas tidak ambil pusing dan memilih pulang tidur. Alangkah kagetnya mereka, berselang beberapa jam, datanglah sekelompok pemuda menyerang rumah Stefanus tempat mereka menginap.
“Saya punya Bapak sampai shok, mereka masuk ke dalam rumah sebagian kasi rusak semua pintu jendela” ujar Fred.
Rupanya, tidak puas hanya memukul Agung, J kemudian memanggil Bapak, Om, Kakak, Adik dan kawan-kawannya yang lain menyambangi rumah Fred mencari keberadaan Agung. Maka datanglah orang satu kampung, mengepung rumah Fred hingga ayahnya Stefanus Nuga hampir jantungan.
Sekelompok orang yang diajak J ini diduga kuat semuanya di bawah pengaruh alkohol, sampai tidak bisa menanyakan terlebih dahulu duduk persoalan lantas langsung menyerang orang serampangan.
Dari potongan video yang sempat direkam, persoalan tersebut sempat diselesaikan oleh Babinsa setempat. Tampak dalam rekaman, Babinsa berusaha untuk menyelesaikan masalah. Pria berinisial O ini sempat menanggapi penjelasan Babinsa.
“Kami di sini kecuali orang luar cari kami, itu kami sikat dia, kami habisi dia, kalau orang jual kami beli” ujar O beberapa kali memotong pembicaraan Babinsa.
Akan tetapi, merasa tidak puas dengan apa yang diperlakukan oleh para pelaku, Fred dan ayahnya Stefanus memilih lapor polisi. Saat ini mereka sedang membuat laporan resmi ke Polsek Boawae. “Kami di Polsek ini Om, lapor resmi” ujar Fred.











