Nagekeo, FloresFiles- Pemerintah Kabupaten Nagekeo, NTT, melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) menunjukkan komitmen dalam mendorong pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Melalui sebuah pelatihan khusus, puluhan milenial dan kaum ibu dibekali keterampilan mengolah kain sisa tenunan atau perca tenun menjadi beragam produk bernilai ekonomi.
Pelatihan ini digelar sebagai upaya mengurangi limbah tekstil, sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis kerajinan lokal.
Perca tenun yang selama ini dianggap sisa produksi, diubah menjadi barang fungsional seperti tas, dompet, aksesoris, hingga dekorasi rumah.
“Pelatihan ini juga bertujuan menumbuhkan wawasan dan jiwa kewirausahaan peserta agar dapat menciptakan produk yang memiliki nilai tambah” ujar Kepala Bidang Industri pada Dinas Koperindag dan UMKM Kabupaten Nagekeo, Serley Finpatriks Mitang di Kantor Koperindag Rabu 3 Desember 2025 siang.
Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang meliputi 10 orang ibu rumah tangga, 5 orang remaja dari Orang muda Katolik (OMK) dan 15 orang siswa-siswi dari SMAK St Fransiskus Xaverius, Boawae.
Sherley berharap kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas generasi muda dan memberdayakan kaum ibu agar lebih mandiri secara ekonomi.
Dengan keterampilan baru tersebut, peserta dapat mulai memproduksi dan memasarkan hasil karya mereka, baik di pasar lokal maupun melalui platform digital.

Dia menegaskan bahwa penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal seperti tenun ikat tidak hanya berdampak pada pendapatan keluarga, tetapi juga menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai teknik mengolah sisa kain tenun menjadi produk bernilai jual, seperti tas kecil, gantungan kunci, aksesori, dan dekorasi rumah.
Serley menyebutkan bahwa, kegiatan pelatihan tersebut dimaksudkan untuk untuk mengurangi masalah lingkungan karena limbah kain sulit terurai dan dapat mencemari tanah serta udara.
“Selain itu, pelatihan ini juga dapat menciptakan peluang ekonomi berupa peluang usaha, peningkatan pendapatan, peningkatan nilai produk serta dapat menciptakan lapangan kerja baru” katanya.
Dilatih Instruktur Berpengalaman
Dalam kegiatan tersebut, para peserta dilatih dan dibimbing oleh oleh Fransiska Anchyllo salah seorang instruktur berpengalaman yang mana menekankan pentingnya memanfaatkan limbah tenun sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mendorong ekonomi kreatif lokal.
Selama pelatihan, para peserta dibekali teori dan praktek terutama mengerti tentang penggunaan benang dan jarum dan langkah- langkah menjahit tangan. Dalam implementasinya, menjahit tangan sedikit berbeda dengan menjahit menggunakan mesin jahit.
“Kenapa harus Perca tenun, karena tenun sangat berharga yang mana menggambarkan filosofis hidup. Faktanya kain sisa tenun ini banyak dibuang, karena nilai sangat berharga maka bisa kita ambil untuk membuat suatu produk bernilai ekonomi” katanya
Kata dia, dari 30 orang peserta mayoritas punya kemampuan dasar karena umumnya berlatarbelakang seorang penenun meski banyak dari kalangan pelajar sehingga memiliki saya tangkap yang cukup baik untuk mencerna apa yang dijelaskan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan usaha kecil berbasis textile upcycling, serta mendorong peningkatan pendapatan keluarga melalui pemanfaatan limbah tenun yang sering terabaikan.
“Yang pertama tas, daripada kita membeli tas branding dengan harga mahal, mending dibuat sendiri, bukti rasa cinta terhadap punya produk sendiri apalagi berbahan dasar tenun yang memiliki nilai estetika tinggi’ katanya.
Terpantau para peserta, terutama kalangan milenial dan ibu rumah tangga, terlihat antusias mengikuti setiap sesi yang diajarkan oleh tutor. Mereka tidak hanya belajar keterampilan baru, tetapi juga mendapatkan wawasan tentang peluang usaha berbasis produk ramah lingkungan.

Maria Yasinta Muku (15) siswi kelas X SMAK St. Fransiskus Boawae mengaku senang bisa diberi kesempatan mengikuti pelatihan tersebut. Dari kegiatan yang dilaksanakan tersebut mereka mendapatkan banyak ilmu pengetahuan baik teori maupun praktek dalam menghasilkan kain perca menjadi produk yang bernilai ekonomis.
“Ini saya punya sudah jadi, saya buat tas dan gantungan kunci, rencananya pulang bisa kembangkan lagi untuk bisa dijual” pungkasnya.











