Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory
Tuhan tidak berkata: Datanglah ketika kamu sudah sempurna. Ia berkata: Pulanglah, Aku menunggumu.
Rabu Abu: Hari Ketika Kesombongan Dikuburkan
Nama Rabu Abu lahir dari ritus menaburkan abu di dahi sambil mengucapkan kalimat yang mengguncang kesadaran manusia: “Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.”
Abu yang dipakai biasanya berasal dari pembakaran daun palma Minggu Palma tahun sebelumnya. Ini memiliki makna simbolis yang dalam. Abu mengingatkan bahwa semua yang tampak kuat pada akhirnya rapuh. Daun palma yang sebelumnya melambangkan kemenangan, kini berubah menjadi abu, lambang kefanaan atau kehampaan. Abu ditempatkan di dahi, bagian yang terlihat, agar manusia mengingat bahwa seluruh hidupnya terbuka di hadapan waktu dan Tuhan.
Martin Heidegger dalam Being and Time (1927) menguraikan, manusia hidup dalam waktu, dan waktu selalu bergerak menuju akhir atau menuju kematian (Being-toward-death). Ia melihat bahwa manusia baru sungguh hidup ketika ia sadar akan kematian. Tanpa kesadaran itu, manusia mudah menunda pertobatan, menunda kasih, menunda kebaikan.
Rabu Abu mengajak manusia berhenti sejenak dari rutinitas dan melihat dirinya dari sudut pandang keabadian. Ini adalah momen refleksi eksistensial: ke mana hidupku sedang berjalan?
Mengapa dinamakan Rabu Abu? Karena pada hari itu manusia diingatkan tentang siapa dirinya sebenarnya. Manusia rapuh, maka ia perlu rendah hati. Hidup ini terbatas, maka kebaikan tidak boleh ditunda. Waktu ini singkat, maka cinta harus diprioritaskan.
Puasa: Musim Mudik Eksistensial
Puasa bukan pertama-tama soal menahan diri, melainkan perjalanan pulang atau sebuah mudik eksistensial menuju pangkuan asal keberadaan. Pulang kepada Allah, kepada diri yang autentik, dan kepada sesama yang sering kita lupakan.
Tuhan tidak berkata: datanglah ketika kamu sudah sempurna. Ia berkata: kembalilah, Aku menunggumu. Dalam Kitab Yoel 2:12-13, Tuhan berseru: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis dan meratap.”
Augustinus dari Hippo dalam Confessions (1991) menulis, “Hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.” Bagi Agustinus, kegelisahan manusia lahir karena keterpisahan dari sumber keberadaannya. Puasa, dalam hal ini, adalah tindakan eksistensial untuk mengakui kegelisahan tersebut dan memilih kembali kepada asalnya.
Puasa bukan ritual kosong. Ia adalah undangan untuk kembali, bukan karena kita sempurna, tetapi karena Allah selalu membuka jalan pulang. Puasa menjadi momen bagi kita untuk mengakui bahwa ada bagian hidup yang perlu diperbaiki.
Masihkah hati ini tahu jalan pulang kepada Tuhan? Sering kita membayangkan Tuhan berdiri sebagai hakim di ujung perjalanan. Namun masa puasa menyingkapkan wajah lain. Ia justru berdiri di ambang pintu rumah, menunggu dengan sabar. Bukan dengan daftar kesalahan di tangan-Nya, melainkan dengan pelukan yang belum sempat kita terima.
Pelukan yang “belum sempat kita terima” mengandung arti mendalam, yakni rahmat mendahului perubahan manusia. Karena itu, puasa bukan tentang menjadi suci dalam sekejap.
Puasa adalah keberanian untuk melangkah pulang meski kaki masih kotor oleh debu perjalanan.
Kita diharapkan untuk memilih pulang sebelum diri merasa layak untuk pulang. Panggilan imamat bukan milik mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang selalu bangkit.
Setiap Orang Punya Jatah untuk Jatuh
Jangan pernah malu untuk pulang kepada Allah. Malu karena kita banyak dosa. Malu karena kita sering menyimpang dari jalan yang benar. Camkanlah, setiap orang pasti punya jatah untuk jatuh.
Selama ini, kita diajari merayakan keberhasilan, tetapi jarang diajar memahami kejatuhan. Padahal, mungkin sejak awal, hidup memang telah menyediakan ruang agar kita jatuh, bukan sebagai kesalahan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan menjadi manusia.
Kita tidak benar-benar mengenal terang sebelum mengalami gelap. Untuk melihat senja, kita harus melewati terik. Untuk menyaksikan pelangi, kita harus merasakan hujan. Untuk bisa berjalan di atas karpet merah, kita harus melewatii kerikil-kerikil tajam.
Søren Kierkegaard melihat krisis dan kejatuhan sebagai momen eksistensial bagi manusia untuk kembali pada dirinya yang sejati (Søren Kierkegaard, The Sickness Unto Death, 1980). Kejatuhan menjadi momen ketika manusia berhenti memainkan peran sosial dan berhadapan dengan dirinya yang telanjang.
Jatuh adalah pengalaman yang merobek kesombongan. Saat segalanya berjalan baik, manusia mudah percaya bahwa dirinya pengendali penuh atas hidup. Namun, sekali saja terjatuh oleh kegagalan, kehilangan, atau kekecewaan, kita menyadari bahwa keberadaan ini rapuh. Kita bukan pusat dunia, kita hanya peziarah yang belajar berjalan di atas ketidakpastian.
Secara filosofis, jatuh adalah perjumpaan dengan batas. Di sanalah manusia berhenti berpura-pura kuat. Ia melihat dirinya tanpa gelar, tanpa pujian, tanpa tepuk tangan. Yang tersisa hanyalah diri yang telanjang di hadapan kenyataan.
Setiap orang punya jatah untuk jatuh karena pertumbuhan tidak pernah terjadi di wilayah yang nyaman. Pohon tidak bertumbuh di langit, melainkan di tanah, tempat ia harus jatuh sebagai benih lebih dahulu. Begitu pula manusia. Kejatuhan sering menjadi pintu menuju kedewasaan.
Kejatuhan bukan akhir cerita. Ia hanyalah bagian dari perjalanan panjang menuju kebijaksanaan. Jatuh sering menjadi awal kebangkitan yang paling sejati. Sebab seseorang yang pernah jatuh tidak lagi berjalan dengan kesombongan, melainkan dengan kesadaran.
Pada akhirnya, manusia bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang, setelah jatuh, menemukan cara baru untuk berdiri, dengan hati yang lebih luas dan jiwa yang lebih dewasa.
Sebelum Nafas Menjadi Kenangan
Kesempatan tidak datang dua kali. Jangan biarkan rahmat berlalu. Banyak orang hidup seolah waktu dapat diulang, seolah kesempatan akan selalu menunggu di tempat yang sama. Padahal kenyataannya, kesempatan adalah tamu yang singgah sebentar, ia datang diam-diam dan pergi tanpa suara.
Manusia sering baru sadar ketika pintu telah tertutup. Kata-kata yang ingin diucapkan terlambat terucap. Maaf yang ingin diberikan tertahan oleh gengsi. Perubahan yang seharusnya dimulai hari ini ditunda hingga esok, dan esok perlahan berubah menjadi penyesalan.
Aristoteles dalam Nicomachean Ethics (1999) menjelaskan, kebajikan dibentuk melalui tindakan konkret yang dilakukan berulang dalam kehidupan nyata, bukan dalam kemungkinan abstrak. Artinya, keputusan untuk menjadi baik harus diambil hari ini, bukan menunggu suatu hari nanti. Kesempatan moral selalu hadir dalam bentuk sekarang (the present moment).
Kita hidup dalam waktu yang terbatas. Karena itulah setiap pilihan menjadi berarti. Jika hidup tidak terbatas, pertobatan tidak pernah mendesak. Namun justru karena waktu tidak menunggu, setiap detik memiliki bobot moral: hari ini kita memilih menjadi siapa.
Pertobatan bukan sekadar meninggalkan kesalahan, melainkan kesadaran bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dalam arah yang keliru. Ia adalah keberanian untuk berhenti berjalan di jalan yang salah, meski sudah melangkah jauh. Sebab semakin lama seseorang menunda kembali, semakin keras hatinya terbiasa dengan kegelapan.
Hal yang paling menyedihkan bukanlah pernah salah, melainkan menyadari kebenaran ketika semuanya sudah terlambat, ketika kata maaf tak lagi terdengar, ketika kesempatan tak lagi kembali.
Maka jangan tunggu esok yang belum tentu datang. Jika hari ini hati masih terusik, itu tanda bahwa pintu masih terbuka. Kembalilah sekarang.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang sadar bahwa ia akan mati. Kesadaran ini bukan sekadar fakta biologis, melainkan pengalaman eksistensial yang mengguncang. Kita hidup sambil mengetahui bahwa suatu hari hidup ini akan berakhir.
Namun, kematian bukan ancaman, melainkan pengingat bahwa hidup memiliki batas. Justru karena terbatas, setiap tindakan menjadi serius.
Pertobatan, dalam pandangan ini, adalah seni menggunakan waktu dengan bijaksana. Pulanglah sebelum terlambat. Tuhan menunggumu.
Fr. Pankrasius Tevin Lory (Saat ini menjalani Masa Orientasi Pastoral di SMA Seminari Mataloko)









