Nagekeo, FloresFiles.com – Jalan tanah kombinasi batu lepas yang tak terurus, ketiadaan jembatan penyeberangan, listrik yang tak menyala sepanjang hari, serta akses internet yang nyaris tak ada menjadi keseharian warga di pelosok tempat Sekolah Dasar Inpres (SDI) Rawe berdiri.
Di tengah keterbatasan infrastruktur itu, sekolah dasar yang terletak jauh di pelosok, tepatnya di Desa Nagarawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT, ini telah bertahan selama 50 tahun, mencerdaskan anak-anak yang tumbuh jauh dari pusat pembangunan dan keramaian kota.
Tahun ini, SDI Rawe genap berusia 50 tahun. Perayaan berlangsung meriah di halaman sekolah yang sederhana. Tawa anak-anak, tarian, dan doa bersama mengisi ruang yang selama ini menjadi saksi perjuangan pendidikan di pelosok. Di tengah sukacita itu, terselip ironi dunia pendidikan di era modern ini, yang mana setengah abad pengabdian dijalani tanpa perubahan berarti pada infrastruktur yang menopang pendidikan.
Ketua Panitia HUT ke-50 SDI Rawe, Kosmas Lawa Bagho, mengatakan bahwa sejatinya pendidikan adalah tiang utama sebuah kemajuan, sebuah peradaban yang dimulai dari keluarga, kampung, hingga dunia.
“Oleh karena itu pepatah mengatakan, jika ingin mematikan hasil dalam jangka waktu tiga bulan, tanamlah padi atau jagung. Apabila engkau ingin memetik hasil dalam jangka waktu tiga tahun, tanamlah pohon. Akan tetapi jikalau engkau mau memetik hasil seumur hidup, bibit lah manusia,” ujar Lawa Bagho dalam sambutannya.
Perayaan 50 tahun SDI Rawe mengusung tema “Bertumbuh di Tengah Kesulitan”. Maka, 50 tahun ini dimaknai sebagai kebangkitan sejarah di tengah keterbatasan, menjadi cerminan perjalanan panjang sekolah dalam mencerdaskan anak-anak di pelosok dengan segala keterbatasan yang ada.
Setengah abad lamanya, sekolah ini bertahan tanpa dukungan infrastruktur memadai seperti jalan rusak, jembatan seadanya, listrik tak stabil, dan akses internet nyaris nihil. Kendati demikian, SDI Rawe terus menjadi pusat belajar dan berkegiatan bagi anak-anak, yang menorehkan sejarah. Sekolah terpencil ini tercatat sudah menghasilkan alumni yang berprestasi.
Banyak dari mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, menjadi guru, tenaga kesehatan, atau profesional di berbagai bidang. Salah satunya, Kosmas Lawa Bagho, yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Nagekeo. Legislator Perindo ini merupakan lulusan S2 yang nyaris dihabiskan jadi imam. Hal ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh akses infrastruktur.
“Atas nama panitia, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya pesta emas 50 tahun SDI Rawe,” katanya.
Sekolah Yang Lahir Dari Keterbatasan
Di tempat yang sama, Kepala Sekolah SDI Rawe, Marsel Ndejeng, menuturkan, usia 50 tahun adalah usia emas yang penuh dengan perjalanan yang sangat panjang. Sekolah ini lahir dengan penuh keterbatasan, bertumbuh dalam kesederhanaan, dan tetap berdiri karena kesetiaan banyak hati.
“Hai, ini kita menyebutkan ulang tahun emas, tetapi emas bukan sekadar angka. Emas adalah simbol perjuangan yang ditempa tanpa pamrih oleh waktu,” ungkapnya.
SDI Rawe, kata dia, tidak lahir dalam kemewahan, akan tetapi diterpa oleh tantangan, pengorbanan, dan doa yang tidak terhitung jumlahnya.
“Emas bagi kami bukan kemilau, tetapi keteduhan. Yang kita syukuri hari ini bukan hanya usia sekolah, tetapi juga sebagai wajah para perintis dan penjasa yang telah merintis sekolah ini hingga para orang tua dan masyarakat mempercayai sekolah ini sebagai lembaga untuk mendidik dan menimba ilmu” tutur dia.
“Apa yang kami nikmati hari ini adalah buah dari pengorbanan mereka,” tambahnya lagi.
Dia menambahkan, setelah 50 tahun berjalan tentu ada pertanyaan: apa yang menjadi jati diri SDI Rawe? Sekolah ini berakar pada nilai budaya, dalam kesetiaan, dan terus berjalan dengan penuh harapan, tetapi tidak dibesarkan dalam kemewahan.
Sekolah menjadi penting bagi kehidupan masyarakat dan berbangsa, di mana setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan sehingga mampu mengubah jalan hidup dan harapan bagi anak bangsa yang hidup dalam keterbatasan.
Dari sekolah ini akan melahirkan manusia-manusia yang berkualitas untuk kembali melayani sesama, tanah kelahiran, serta bangsa.
“Sekolah bukan saja tempat belajar, tetapi sekolah sebagai tempat pembentukan karakter. Dukungan dari semua pihak menjadi sangat penting demi keberlanjutan mutu pendidikan di SDI Rawe,” katanya.
Pendidikan Pondasi Utama Pembangunan
Wakil Ketua DPRD Nagekeo, Yohanes Siga, mengatakan 50 tahun perjalanan lembaga pendidikan bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang waktu setengah abad ini, SDI Rawe telah berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya dalam membangun sumber daya manusia di Kecamatan Boawae.
“Dari sekolah inilah telah lahir banyak generasi yang kini berkiprah sebagai tokoh masyarakat, pendidik, aparatur pemerintah, maupun pelaku pembangunan di berbagai bidang,” ungkapnya.
Atas nama pimpinan dan seluruh anggota DPRD, Yohanes menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pendiri sekolah, para guru terdahulu, dan seluruh pihak yang dengan penuh dedikasi telah mengabdikan diri bagi kemajuan SDI Rawe.
“Jasa Bapak dan Ibu sekalian akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari sejarah pendidikan daerah ini,” tutur politisi Gerindra ini.
Yohanes menyebut pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan daerah. Oleh karena itu, DPRD Nagekeo berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan mutu pendidikan, baik melalui kebijakan, penganggaran, maupun pengawasan, agar sekolah-sekolah seperti SDI Rawe dapat terus berkembang, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas.
“Kepada anak-anakku sekalian, teruslah belajar dengan tekun, hormati guru dan orang tua, serta tanamkan nilai disiplin, kejujuran, dan kerja keras. Kalian adalah harapan masa depan daerah ini, bahkan masa depan bangsa,” katanya.
Jangan Membuat Sulit Orang Lain
Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, mengatakan pesta emas di usia ke-50 tahun adalah sebuah sejarah panjang. Sejarah panjang harus sejalan dengan kehendak kuat masyarakat untuk berubah.
Uskup Agung Ende menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memperjuangkan lembaga pendidikan untuk mendidik anak bangsa dan juga bagi gereja.
“Bertumbuh di tengah kesulitan adalah suatu kondisi yang terus-menerus kita hadapi. Akan tetapi, kesulitan harus dihadapi dengan jiwa yang besar, punya karakter, dan punya harapan,” ujarnya.
“Harapan saya untuk sekolah ini, kalau kita sadar bertumbuh di tengah kesulitan, maka kita tidak menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Kalau kita sendiri tumbuh dalam kesulitan, kita tidak menimbulkan kesulitan bagi masyarakat, keluarga, dan lainnya,” pungkasnya. (sevrin)











