Serah Terima Praeses Seminari Mataloko Ke Romo Stef Wolo Itu, Uskup Agung Ende Tekankan Kepemimpinan Sebagai Tugas Kegembalaan

romo-stef-wolo

FloresFiles.com – Suasana penuh syukur dan kegembiraan mewarnai perayaan Ekaristi di Kapela SMA Seminari Mataloko, Sabtu (7/3/2026). Dalam perayaan tersebut berlangsung serah terima jabatan Praeses Seminari Mataloko dari Romo Tinus UA kepada Romo Stef Wolo Itu yang kini dipercaya memimpin lembaga pendidikan calon imam tersebut.

Momen penting ini dihadiri oleh para imam, para pembina seminari, para seminaris, serta umat yang datang untuk menyaksikan peristiwa penting dalam perjalanan Seminari Mataloko. Bagi komunitas seminari, serah terima kepemimpinan ini bukan sekadar pergantian jabatan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbarui semangat pelayanan dalam membina para calon imam.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Dalam homilinya, ia mengajak para seminaris untuk memahami makna kata praeses, istilah yang digunakan untuk menyebut pemimpin seminari.

Uskup Paulus memulai refleksinya dengan mengajak para siswa seminari menelusuri asal-usul kata tersebut. Menurutnya, istilah praeses berasal dari bahasa Latin prae sedere yang berarti “duduk di depan” atau berada di posisi terdepan untuk memimpin.

“Dari akar kata yang sama kita juga mengenal istilah presiden,” kata Uskup Paulus. “Artinya seseorang yang ditempatkan di depan untuk memimpin sebuah komunitas.”

Penjelasan ini dimaksudkan agar para seminaris memahami bahwa seorang praeses memiliki peran penting sebagai pemimpin yang berada di garis depan untuk membimbing komunitas seminari.

Dalam kesempatan itu, Uskup Paulus juga menyinggung pengalaman Romo Stef Wolo Itu yang sebelumnya berkarya selama lebih dari sepuluh tahun di Swiss. Ia menjelaskan bahwa di negara tersebut istilah presiden digunakan secara luas dalam berbagai komunitas.

Menurutnya, di Swiss hampir setiap kelompok atau organisasi memiliki seorang presiden. Ada presiden dewan paroki, presiden kelompok Santa Ana, hingga presiden dalam komunitas olahraga maupun kelompok musik.

Situasi ini, kata Uskup Paulus, berbeda dengan Indonesia yang umumnya hanya mengenal satu presiden sebagai kepala negara. Namun dalam kehidupan komunitas, istilah presiden sebenarnya memiliki arti yang lebih luas, yakni seorang pemimpin yang dipercaya untuk mengarahkan kehidupan bersama.

Karena itu, pengukuhan Romo Stef sebagai praeses seminari pada hari Sabtu tersebut menandai tanggung jawab baru sebagai pemimpin komunitas pembinaan para calon imam.

Meski demikian, Uskup Paulus menegaskan bahwa kepemimpinan dalam kehidupan Gereja, termasuk di seminari, tidak boleh dipahami sekadar sebagai jabatan atau posisi struktural. Kepemimpinan, menurutnya, adalah panggilan untuk melayani.

Ia kemudian mengaitkan refleksinya dengan bacaan liturgi pada hari itu yang menampilkan gambaran tentang gembala. Dalam Kitab Nabi Mikha, Tuhan digambarkan sebagai gembala yang menuntun umat-Nya menuju sumber kehidupan.

Bagi Uskup Paulus, gambaran ini menjadi kunci untuk memahami tugas seorang pemimpin seminari. Seorang praeses dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya kegembalaan Tuhan.

“Tuhan sendiri adalah gembala utama bagi umat-Nya,” ujarnya. “Seorang pemimpin seminari dipanggil untuk membantu menuntun komunitas menuju Tuhan.”

Ia menjelaskan bahwa seorang gembala tidak hanya memimpin dari depan, tetapi juga membimbing, menjaga, dan memastikan umat yang dipimpinnya tetap berada di jalan yang benar.

Dalam konteks seminari, peran ini menjadi sangat penting karena para seminaris sedang berada dalam proses pembinaan untuk menjadi imam di masa depan. Karena itu, kepemimpinan seorang praeses tidak hanya menyangkut pengelolaan komunitas secara organisatoris, tetapi terutama menyangkut pembinaan kehidupan rohani.

Menurut Uskup Paulus, seminari harus menjadi tempat di mana setiap anggota komunitas dibantu untuk membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mengarahkan seluruh anggota komunitas kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan.

Di akhir homilinya, Uskup Paulus mengajak seluruh umat yang hadir untuk mendoakan Romo Stef Wolo Itu dalam tugas barunya sebagai Praeses Seminari Mataloko. Ia berharap agar dalam bimbingan Tuhan sebagai gembala yang baik, Romo Stefe dapat memimpin komunitas seminari dengan penuh dedikasi dan semangat pelayanan.

Ia juga berharap Seminari Mataloko terus berkembang sebagai tempat pembinaan yang melahirkan imam-imam yang setia melayani Gereja dan umat.

Perayaan Ekaristi sekaligus serah terima jabatan tersebut menjadi momen penting bagi komunitas Seminari Mataloko. Peristiwa ini tidak hanya menandai pergantian kepemimpinan, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk terus membina para calon imam yang kelak akan menjadi pelayan Gereja di berbagai tempat.

Dengan semangat kebersamaan dan pelayanan, komunitas Seminari Mataloko diharapkan terus menghasilkan buah-buah panggilan yang membawa berkat bagi Gereja dan masyarakat di masa depan. Selamat bertugas di Almamater Romo Stef !