Fr. Pankrasius Tevin Lory
Jika perang adalah kiamat kecil
maka ia lahir dari dada manusia.
Ia merobek hari
tanpa menunggu akhir zaman.
Ia menggugurkan masa depan
dari rahim waktu yang hendak mekar.
Ia mengubah halaman kisah
menjadi kitab ratapan.
Jika perang adalah kiamat kecil
maka mentari akan terbit dengan wajah pucat.
Cahayanya redup oleh debu dan abu.
Langit menunduk.
Ia tak lagi biru.
Doa seakan patah di udara sebelum sampai ke surga.
Jika perang adalah kiamat kecil
Maka awan-gemawan akan seperti kain kafan
yang digantung di jemuran sejarah.
Rudal melengkung di langit
seperti tanda tanya raksasa.
Api seolah mengunyah kenangan.
Ledakan seakan memecah waktu menjadi serpihan.
Di sudut kota yang terbakar,
seorang anak menatap abu
seperti membaca nubuat.
Darahnya mengering
seperti tanda tangan yang dipaksakan
di atas perjanjian kebencian.
Ia memungut sepotong batu
yang masih hangat oleh ledakan.
Di tangannya, batu itu bukan senjata,
melainkan sisa dunia
yang ingin ia susun kembali.
Dalam matanya yang letih,
tersimpan pertanyaan polos:
mengapa manusia belajar terbang
hanya untuk menjatuhkan api?
Ia belum tahu tentang eskatologi,
namun ia tahu
bahwa dunia bisa berakhir
dalam satu malam.
Jika perang adalah kiamat kecil
maka damai adal
ah kebangkitan
yang paling sulit diperjuangkan.









