BOANIO, FloresFiles – Pagi yang cerah menyapa Rabu, 22 April 2026. Tepat pukul 08.00 WITA, umat dan para pelajar se-Paroki Boanio berkumpul dalam satu semangat untuk merayakan Misa Hari Bumi Sedunia (Earth Day), yang diperingati setiap tanggal 22 April.
Dalam balutan tema global “Kekuatan Kita, Planet Kita” serta tema khusus Paroki Hati Yesus dan Hati Maria Boanio, “Jagalah dan Rawatlah Bumi Kita sebagai Rumah Bersama”, suasana gereja terasa hangat, dipenuhi iman, harapan, dan kepedulian.
Dalam keheningan doa yang khusyuk, umat diajak merenung: bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan anugerah ilahi yang dipercayakan untuk dijaga. Sabda yang disampaikan menggugah kesadaran bahwa mencintai Tuhan tak bisa dipisahkan dari mencintai ciptaan-Nya, yakni alam semesta sebagai rumah bersama.
Semangat itu sejalan dengan pesan dalam ensiklik Laudato Si’, di mana Paus Fransiskus menegaskan, “Bumi, rumah kita, tampak semakin seperti tumpukan sampah yang sangat luas.” Sebuah peringatan keras, sekaligus panggilan untuk bertobat secara ekologis mengubah cara pandang dan cara hidup terhadap alam.
Lebih jauh, dalam ensiklik yang sama, ia juga mengajak umat manusia untuk menyadari bahwa “segala sesuatu saling terhubung.” Artinya, kerusakan lingkungan bukan hanya soal alam, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual manusia.
Hari Bumi pertama kali diperingati pada tahun 1970 dan kini dirayakan secara global oleh miliaran orang di seluruh dunia. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran serta mendorong aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Peringatan Earth Day biasanya diisi dengan kegiatan penanaman pohon, pengurangan penggunaan plastik, pembersihan sampah, hingga kampanye hemat energi. Di Boanio, kampung kecil di kaki Gunung Amegelu, perayaan ini tidak berhenti di altar gereja. Usai misa, semangat itu menjelma menjadi aksi nyata.
Umat bersama para siswa dari berbagai lembaga pendidikan bergerak serentak membersihkan lingkungan mulai dari halaman gereja, kapela di setiap stasi, area sekolah, hingga sepanjang jalan negara.
Suasana pun berubah menjadi penuh kehidupan. Tawa dan canda berpadu dengan kerja sama. Tanpa sekat usia dan latar belakang, semua bersatu dalam satu tujuan mulia: merawat bumi. Dengan kantong sampah di tangan dan alat seadanya, mereka membuktikan bahwa kepedulian tidak harus dimulai dari hal besar.
Seperti yang dikatakan Jane Goodall, “Apa yang Anda lakukan membuat perbedaan, dan Anda harus memutuskan perbedaan seperti apa yang ingin Anda buat.” Kutipan ini terasa hidup dalam aksi sederhana ratusan masyarakat Boanio pagi itu.
Hal yang sama juga diingatkan oleh Mahatma Gandhi: “Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk keserakahan setiap orang.” Sebuah refleksi yang tetap relevan di tengah krisis lingkungan global saat ini.
Di bawah terik matahari, tak terdengar keluhan. Yang tampak justru semangat yang menyala dari anak-anak hingga orang dewasa, dari siswa hingga para guru dan umat. Kesadaran itu tumbuh bersama: menjaga bumi adalah tanggung jawab semua orang.
Hari itu bukan sekadar seremoni iman, melainkan perwujudan cinta yang nyata. Dari Paroki Boanio, sebuah pesan sederhana namun kuat digaungkan: perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil.
Sebagaimana diingatkan kembali dalam Laudato Si’, manusia dipanggil untuk menjadi pelindung karya ciptaan Allah. Semangat itulah yang hidup di Boanio dari doa yang khusyuk hingga aksi nyata yang penuh makna.
Dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama, lahirlah harapan besar: bahwa bumi akan tetap lestari jika manusia mau peduli dan bertindak. Karena saat kita menjaga alam, sejatinya kita sedang menjaga masa depan kita sendiri. (Redaksi)











