Nagekeo, FloresFiles– Setelah melewati proses panjang sejak pertama kali diusulkan pada tahun 2022, rencana revitalisasi Pelabuhan Maropokot di Kabupaten Nagekeo akhirnya memasuki tahap realisasi pada 2026.
Proyek yang telah melalui berbagai kajian dan studi kelayakan ini diharapkan mampu meningkatkan konektivitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Nagekeo dan wilayah sekitarnya.
“Memang sebelum memulai suatu pembangunan tentu dimulai dengan suatu perencanaan yang matang dan di tahun 2022 kami sudah memulai pekerjaan perencanaan yaitu rencana induk pelabuhan” ujar Kepala Unit Pelayanan Pelabuhan (UPP) Kelas lll Maropokot, Wilhelmus Daniel Dami, di sela kegiatan pemancangan tiang pertama pembangunan Senin 20 April 2026.
Setelah menyelesaikan perencanaan induk pelabuhan, UPP Kelas lll Maropokot mendapatkan alokasi anggaran guna melaksanakan studi kelayakan detail engineering desain (DED) dan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL).
Dalam proses tersebut, UPP Kelas III Maropokot tidak berjalan sendiri, melainkan melibatkan berbagai pihak terkait guna memastikan perencanaan berjalan komprehensif dan sesuai regulasi. Sejumlah instansi yang turut ambil bagian di antaranya Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, pemerintah daerah Kabupaten Nagekeo, serta konsultan perencana yang bertanggung jawab menyusun DED.
Selain itu, penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) juga melibatkan, Bappelitbangda, Dinas Lingkungan Hidup setempat. Keterlibatan berbagai pihak ini dinilai penting untuk menjamin bahwa pembangunan pelabuhan tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial di wilayah sekitar. “Sehingga anggaran pembangunan ini bisa dibantu oleh Pemerintah Pusat pada tahun 2025” urai Wilhelmus.
Memasuki tahun 2025 sebagaimana dalam rencana awal, rehabilitasi Pelabuhan Maropokot menemui kendala yakni dihadapkan pada efesiensi anggaran di mana dampaknya terhadap seluruh proyek pembangunan infrastruktur yang bersumber dari APBD termasuk Pelabuhan Maropokot.
Dari rencana awal Rp65 Miliar, Pemerintah Pusat hanya mengklasifikasikan Rp35 Miliar, akan tetapi mengingat Rehabilitasi pelabuhan Maropokot merupakan kebutuhan mendesak, alokasi anggaran ditambahkan Rp20 Miliar. Anggaran tersebut kata Wilhelmus hanya mampu untuk membongkar dermaga lama yang tidak layak.
“Baru di tahun 2026 kita mendapatkan anggaran untuk merehabilitasi total dengan yang akan kita lakukan revitalisasi dermaga itu ukuran panjangnya 157 meter dan lebar 8 meter” ungkap Wilhelmus.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Taufan Efendi Suprapto, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program strategis Direktorat Jenderal Perhubungan Laut yang dibiayai melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan kontrak multi years tahun anggaran 2025–2026.
Proyek dengan nilai kontrak mencapai Rp91,3 miliar ini rencananya akan digarap selama 460 hari kalender oleh PT. Wijaya Inti Nusa Sentosa dan PT. Spektra Adhya Prasarana sebagai konsultan supervisi.
Berdasarkan laporan progres hingga minggu ke-30, periode 13–19 April 2026, realisasi fisik pekerjaan telah mencapai 49,91 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa proyek berada pada tahap pertengahan, meskipun masih terdapat deviasi dari rencana awal
Lebih lanjut Effendi menekankan pentingnya sinergi antara pelaksana dan pengawas guna memastikan kualitas pekerjaan tetap terjaga sesuai standar yang ditetapkan.
Proyek ini sekaligus menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur strategis membutuhkan proses panjang, konsistensi pengusulan, serta sinergi lintas pihak bukan sekadar hasil dari lobi singkat, melainkan kerja berkelanjutan yang terukur dan terencana.









