Forum 10 Suku dan Keluarga Noni Desak Hukuman Mati Pelaku

Forum 10 Suku mendatangi Kejari SIKKA, desak pelaku kasus Noni dihukum mati, Photo dok: Irma

MAUMERE, FloresFiles– Gelombang protes besar menyelimuti Kota Maumere saat puluhan massa yang tergabung dalam Forum 10 Suku Romanduru – Rubit – Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni, menggelar aksi damai besar-besaran. Massa menuntut keadilan tertinggi berupa hukuman mati bagi pelaku dan mendesak pengusutan tuntas atas berbagai kejanggalan dalam penanganan kasus pembunuhan tersebut.

Keraguan Atas Pelaku Tunggal dan Profesionalisme Polisi

Dalam selebaran pernyataan sikap yang dibagikan kepada masyarakat, massa aksi secara tegas menyatakan ketidakpercayaannya bahwa Fransiskus Rofinus Gewar adalah pelaku tunggal dalam tragedi berdarah ini. Forum 10 Suku menilai Polres Sikka tidak profesional dan gagal menuntaskan perkara secara transparan.

Kekecewaan massa muncul karena hingga saat ini sejumlah barang bukti krusial belum juga ditemukan, di antaranya pakaian korban (baju, celana, dan celana dalam), bagian tubuh korban (jari dan rambut), handphone milik korban.

Selain itu, massa menyoroti ketiadaan pemeriksaan digital forensic, lie detector (pendeteksi kebohongan), serta ketidakmampuan polisi menghadirkan detail percakapan WhatsApp dari ponsel pelaku.

Tuntutan Hukuman Mati dan Penangkapan Aktor Lain

Massa aksi mendesak Kejaksaan Negeri Sikka dan Pengadilan Negeri Maumere untuk tidak memberikan ampunan. Mereka menuntut pidana hukuman mati bagi Fransiskus Rofinus Gewar dan hukuman seberat beratnya bagi pihak keluarga yang diduga turut serta membantu aksi keji tersebut.

“Hukum jangan hanya melihat umur pelaku, tetapi lihatlah kejahatan luar biasa yang dilakukannya. Bagaimana mungkin pembunuhan serapi ini dilakukan sendirian dalam waktu singkat? Ini mustahil,” tegas Emanuel Mula, perwakilan keluarga korban, saat melakukan audiensi dengan Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Armadha Tangdibali, S.H.,M.H.

Melalui pernyataan sikapnya, Forum juga mendesak polisi segera menangkap beberapa nama yang diduga terlibat, yakni Putri Bunga (Nenek pelaku), Mayesti (Ibu tiri pelaku), dan Maksimus Lodan.

Tak hanya itu, massa meminta pengadilan menetapkan Vinsensius Sawe, Saverius Gewar, dan Febrianus Metodius Nong Lomi sebagai pemberi keterangan palsu dalam persidangan.

Dugaan Suap dan Desakan Pencopotan Kapolres

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi juga membawa isu sensitif terkait integritas penyidik. Berdasarkan keterangan saksi Lukas Lado dan anaknya, Dio, diduga ada aliran dana sebesar Rp5.000.000,- yang mengalir kepada salah satu penyidik Reskrim Polres Sikka.

Atas dasar rentetan kegagalan dan dugaan penyimpangan tersebut, massa aksi melayangkan tuntutan keras kepada Kapolri untuk:

Mencopot Kapolres Sikka dan Kapolda NTT

Membongkar siapa sosok “bintang” atau pihak berpengaruh yang diduga menjadi pelindung Saverius Gewar.

“Sampai sekarang motif pembunuhan belum terungkap. HP ayah pelaku pun tidak bisa didapatkan dengan alasan tidak masuk akal. Apakah tugas kami sebagai warga yang harus mencari barang bukti sendiri?” pungkas Emanuel dengan nada kecewa.

Aksi damai ini berakhir dengan pengawalan ketat aparat, sementara pihak keluarga bersumpah akan terus mengawal kasus ini hingga keadilan bagi Stevania Trisanti Noni ditegakkan sepenuhnya. (Irma Rose)