Borong, Flores Files – Polemik honor pemain dan staf Persematim Manggarai Timur pada Piala Gubernur Eltari Memorial Cup (ETMC) Ende tahun 2025 mencuat ke publik.
Sebagian pemain dan staf kecewa karena honor yang diterima dinilai kurang selama dua bulan berada di Ende.
Yon Jeradu, salah satu pemain yang dibawa ke Ende untuk memperkuat Persematim di turnamen ETMC itu menuangkan kekecewaannya melalui cuitan media sosial.
“Oh Persematim eme toe ma dana asi kat ikut turnamen, bayar denda kaut” tulis Jeradu dengan bahasa daerah setempat yang artinya “Persematim lebih baik tidak usah ikut turnamen kalau tidak ada dana, lebih bagus bayar denda saja”.
Kekecewaan Jeradu rupanya tidak hanya menyangkut honor, tetapi juga kecewa karena tak pernah masuk dalam starting line up Persematim semenjak Pra ETMC hingga turnamen resmi bergulir.
Ia pun lagi-lagi melontarkan kekecewaannya.
“Berharap pulang dari Ende bawa uang banyak. Sudah toe ma pernah masuk line up, toe ma sesuai kole tiba seng, oleh ae nuk agu waktu data, dua bulan itu tidak gampang” tulis Jeradu.
Komentar kekecewaan tersebut tak hanya datang dari Jeradu selaku pemain. Yanto Susanto, Staf teknis yang bertugas sebagai Kitman Persematim pada ETMC Ende tahun 2025 juga menyampaikan kekecewaan serupa atas honor yang diterima.
Kitman adalah petugas yang menyiapkan, mengelola, dan merawat semua perlengkapan dan kebutuhan tim, baik saat latihan maupun bertanding
Yanto bahkan mengaku telah diperlakukan sebagai budak selama berada di Ende.
“Diperlakukan seperti budak, segala pengorbanan dan keringat kami tidak dihargai sama sekali. Ketika hak dan kewajiban kami dituntut satu per satu hilang dari permukaan. Lalu omelan dan keluh kesa kami mau sampaikan ke siapa” tulis Yanto diikuti lima tanda tanya besar pada akhir cuitannya.
Hingga kini cuitan keduanya di beranda media sosial sudah dikomentari oleh puluhan netizen. Sebagian besar menaruh perhatian penuh.
Flores Files mencoba menghubungi salah satu Pengurus Kontingen Persematim, Syrilus Fensi Antang.
Syrilus adalah salah satu pengurus yang dipercayai oleh Asosiasi Sepak Bola Kabupaten (Askab) Manggarai Timur untuk mengemban tugas sebagai Pelatih Kepala (Head Coach).
Terkait polemik itu, Anggota DPRD Fraksi PAN ini menjelaskan bahwa nilai honor yang diterima oleh seluruh pemain dan staf kepelatihan sama, yakni Rp.2.000.000 per orang.
Terkait cuitan Jeradu di media sosial, Fensi Antang mengaku tidak paham penyebabnya karena honor yang diterima Jeradu sama dengan beberapa rekannya yang menjadi cadangan mati di ETMC Ende, seperti, penjaga gawang, Celly dan dua wing bek, Febri dan Zul.
“Saya tidak paham tuntutannya sih Yon Jeradu itu, padahal dia sudah dapat honor Rp. 2 juta plus sepatu 1 set dan baju 3 set. Selama dua bulan juga makan pakai catering” kata Fensi.
Sementara terkait pengeluhan Jeradu tentang posisinya yang tak pernah masuk dalam starting line up, Fensi menjelaskan bahwa itu adalah keputusan pelatih yang tidak bisa diganggu gugat, pemain harus berjiwa besar untuk menerima.
Keputusan untuk tidak menurunkan Yon Jeradu selama pertandingan di Ende tentu berdasarkan pertimbangan matang demi kebaikan tim.
Yon Jeradu dianggap belum mampu bersaing dengan dua rekan seniornya, yakni Rojo dan Aro sebagai senter bek, apalagi ada kelebihan kuota senior.
“Yon tidak masuk skuad karena memang kalah bersaing dengan Rojo dan Aro, apalagi ada kelebihan kuota senior. Tidak mungkin pelatih turunkan Yon Jeradu ketimbang Rojo dan Aro, mereka posisinya sama” ungkap Fensi.
Menurut dia, kekecewaan Yon Jeradu bisa dipahami secara psikologis, mungkin karena bukan soal honor tetapi karena tidak pernah turun.
“Tetapi itulah dia, tidak sadar diri bahwa Rojo dan Aro lebih hebat. Kalau ngotot honor sih tidak mungkin, saya pikir kali ini lumayan mereka terima” pungkas Fensi.
Fensi juga meluruskan pernyataan salah satu staf Kitman, Yanto Susanto yang menyebut perlakuan Persematim terhadap dirinya seperti budak.
Ia meluruskan bahwa Persematim tidak pernah melakukan gaya perbudakan terhadap pemain dan staf selama berada di Ende.
Atas cuitan medsosnya, Fensi menyebut Yanto seperti anak kecil, omong besar tetapi tidak menjalankan tugas.
“Dia hanya sebagai kitman dalam struktur kepelatihan, tetapi di Ende kerja hanya makan tidur. Saya kecewa sama komentarnya Yanto di medsos, manusia tidak tahu terima kasih” tutur Fensi.
“Honornya Yanto itu ada hanya terimanya per tahap karena uang sementara belum cair. Pusing juga, honor kita masih cari ternyata dia sudah WA kemana-mana” tambah Fensi kesal atas cuitan Yanto.
Floeres Files juga menghubungi salah satu pengurus Persematim, Sis Mbalur. Sis merupakan salah satu pengurus yang dipercayai Askab sebagai Ketua Kontingen Persematim di ETMC Ende.
Namun, saat dikonfirmasi Flores Files ia menolak untuk diwawancarai dan menyerahkan sepenuhnya ke Ketua Askab Manggarai Timur, Egi Asa.
Menurut Sis, ia tidak bertanggung jawab soal honor pemain dan staf, tanggung jawab itu ada di Ketua Askab dan Bendahara.
“Toe lite, tanggung jawab honor itu ada di Pa Ketua Askab Egi Asa dan Bendahara” jawab Sis melalui pesan singkatnya.
Flores Files mencoba menghubungi Ketua Askab, Egi Asa. Dalam penjelasannya per telepon, Egi Asa mengaku tidak mengetahui angka pasti jumlah anggaran yang dibawa kontingen Persematim ke Ende.
Hanya berdasarkan ingatannya jumlah anggaran itu sekitar seratus jutaan lebih, dengan rincian jumlah sumbangan Komite Olahraga Nasional (KONI) ditambah dengan sumbangan Persematim Mania, DPRD dan sumbangan para pihak lainnya.
Angka tersebut kemungkinan mencapai Rp.160.000.000 an lebih.
Namun menurut dia jumlah itu tidak cukup dipakai Persematim selama berada di Ende, baik dari honor pemain, staf kepelatihan hingga belanja-belanja lainnya.
“Anggaran itu belum cukup, belum, belum cukup, pokoknya belum cukup” tekan Egi beberapa kali.
Terkait honor yang diteriaki oleh pemain, Egi menilai itu hal manusiawi, intinya uang itu sudah dikelola secara transparan oleh pengurus.
Egi menambahkan, urusan honor pemain itu tidak ada dalam aturan PSSI sehingga pihaknya mensiasati jumlah anggaran yang ada.
“Tidak ada dalam aturan PSSI untuk honor pemain liga 4, semuanya kami beri berdasarkan kondisi keuangan yang ada. Karena itu saya minta pemain jangan komplain lagi soal ini, bersyukur saja dengan jumlah yang sudah terima” ungkap Egi.
Egi juga bilang bahwa sebelum menerima honor terakhir para pemain sudah menerima uang Rp.300.000 per orang.
Tak hanya itu, kebutuhan pemain seperti sepatu dan kaus kaki juga telah dipenuhi oleh pengurus.
“Sebelum terima honor terakhir ini kami sudah kasih Rp.300.000 per orang, tambah beli sepatu dan kaos kaki, ternyata itu juga belum cukup bagi mereka. Kami juga kadang pusing lagi mau urus” ujar Egi sedikit kecewa.
Ia berharap, pencinta sepak bola Manggarai Timur tidak terprovokasi dengan cuitan yang beredar luas di media sosial.
Lalu terkait Yanto Susanto yang bilang pengurus hilang satu per satu, Egi bilang itu tidak benar.
“Kalau dibilang kami hilang satu persatu saya katakan tidak. Sekali lagi tdk ada istilah hilang satu persatu. Kontingen persematim waktu pulang turun langsung di Rujab Bupati Manggarai Timur dan makan bersama lanjut dengar arahan Pa Bupati kemudian lanjut rapat evaluasi” tegas Egi.











