Ketika Golkar NTT Memilih Pemimpin Problem Solver, Bukan Pelindung Oligarki 

Justino Djogo Dja

Oleh: Justino Djogo Dja 

Saya cukup menyebut dua kriteria kandidat ketua DPD 1 Partai Golkar NTT yang akan dipilih dalam waktu dekat. Pertama, problem solver alias Ketua yang mampu memberikan solusi tepat bagi persoalan yang dihadapi internal partai Golkar dan memberi solusi bagi pembangunan NTT.

Kedua, Golkar NTT butuh pemimpinnya yang jauh dari intensi memelihara jaringan oligarki. Kenapa? Oligarki dalam level dan sektor apapun, cepat atau lambat akan dikubur waktu. Mereka akan hilang meskipun menyisakan aroma yang tidak sedap.

Oh ya. Gubernur NTT saat ini memang dikenal sangat fleksibel dan lincah merancang big deal dengan beberapa pihak di pusat dan bahkan beberapa rekan di luar negeri . Dia pun memiliki relasi yang baik dengan para kepala daerah kabupaten kota di NTT dan tampil sebagai problem solver.

Bung Gavriel, sang putra mantan Ketum Golkar pun dicalonkan beberapa teman Golkar NTT. Tidak masalah. Kompetisi dalam partai adalah substansi demokrasi. Hari gini, mari kita hindari praktek aklamasi. Rasanya kita tidak punya kader ya. Namun, itulah contoh kecil dari tajamnya kuku oligarki.

Ketika Diaspora Nagekeo di Jabodetabek beraudiensi dengan Komisi 1 DPR RI, kami diterima bung Gavriel dengan sangat baik dan ramah. Ketika itu, kami mempertanyakan status perkara kematian Prada Lucky di Batalion Wakanga Mere di Mbay dan isu lain seperti penambahan korem di NTT.

Kesan saya, Gavriel itu sosok anak muda yang cepat belajar. Sebagai new comer di Senayan, tentu saya sangat harapkan dia makin matang dan memperluas jaringan di periode perdananya sebagai legislator utusan NTT 1.

Kesan saya, ada saja pihak yang bermain di level oligarki elit. Baik di level DPD 1 NTT maupun di level DPP Partai Golkar. Desas desus meniup api keretakan antar kader Golkar bukanlah tabiat baik dalam berpartai. Segelintir senior kita sudah memberi teladan berdemokrasi secara kritis bukan emosional. Kita contohi yang baik saja.

Di sisi lain, karena sebagai incumbent dan kandidat ketua DPD 1 Golkar NTT adalah Gubernur NTT ya saya pun mengulas sedikit tentang sosoknya. Kinerja setahun pertama sebagai Gubernur NTT, perlu ditanggapi secara konstruktif strategis.

Jika ketidaknyamanan di beberapa sektor akibat isu dan kebijakan nasional terkait geothermal di NTT, itu tak bisa dikatakan sebagai kesalahan Gubernur Melky yang juga kader Golkar. Juga soal pemangkasan anggaran drastis APBD NTT yang bisa merembet ke menurunnya kwantitas pembangunan infrastruktur fisik dan kualitas pelayanan masyarakat NTT. Itu bukan semata kesalahannya.

Dalam hati kecil, ada kebanggaan bahwa Gubernur NTT adalah Ketua DPD 1 Golkar NTT. Ada sinergitas di dalamnya. Bukan sekedar gagah-gagahan. Kita butuh kepala daerah problem solver di saat krusial ini.

Saran saya, Eja Melky dan Bang Gavriel memang mesti duduk satu meja sambil menyantap sei sapi ‘rasa sayang NTT’.

Kita butuh problem solver dari berbagai sektor dan level. Harus hindari kesombongan dan arogansi sektoral.

Pasca dilantik, baik sebagai legislator di Senayan [ Gavriel] maupun Melky sebagai Gubernur NTT. Kedua sosok ini telah menapaki langkah pasti membangun bangsa NTT dengan gebrakan dan fleksibilitas dengan gayanya masing-masing.

Sudah sering tersingkap wajah buruk pemimpin one man show alias bertindak semaunya sendiri tetapi harapan kita pada tangan dingin pemimpin problem solver dalam memimpin Golkar dan membangun NTT.

Selamat berkompetisi untuk kandidat yang akan dipilih secara demokratis tanpa embel embel money politic. Ini saatnya kita membuktikan bahwa pemimpin Golkar NTT bukanlah sosok yang otoriter namun tidak juga terlalu kompromistis. Dia bisa dengar suara dari bawah dan menyerap aspirasi secara kritis.

Saya sering menutup tulisan dengan pepatah Jerman yang memang cocok di akhir refleksi ini. Die kleine Macht sogar ist eine grosse Moeglichkeit fuer grosses Tun fuer dein Volk: Lekuasaan sekecil apapun itu adalah kesempatan besar untuk berkarya bagi rakyat.

Penulis merupakan, Direktur Kajian Politik Luar Negeri DPP Partai Golkar