Nagekeo, FloresFiles— Staf khusus Komjen Pol (Purn), Gories Mere (GM), Valens Daki Soo (VDS) membantah tudingan Pater Steph Tupen Witin, SVD, dalam serial opininya yang menyebut adanya “Mafia Waduk Lambo” dan “orang kuat Jakarta” dalam proyek strategis Nasional (PSN) Waduk Lambo.
“Sebagai Staf Khusus Bapak Komjen Pol (Purn) Drs. Gories Mere (GM), saya perlu menyampaikan klarifikasi publik atas serial opini STW yang menyebut dirinya jurnalis dan penulis yang berisi insinuasi, tuduhan, bahkan fitnah kepada Pak GM” ujar Valens kepada awak media di Hotel Aren, Mbay, Jumat 4 Desember 2025 malam.
Valens menegaskan, klarifikasi sekaligus bantahan atas serial tulisan Pater Steph dipandang perlu untuk menjaga ruang informasi tetap objektif dan tidak dipenuhi narasi menyesatkan kepada publik terutama masyarakat Kabupaten Nagekeo.
“Selain itu, saya berkepentingan menjaga nama baik dan reputasi Pak GM sebagai tokoh nasional asal Flores yang telah berkarya untuk bangsa dan negara” katanya.
Tentang ‘Orang Kuat’Jakarta
Valens menyebut, Pater Steph Tupen, SVD, dalam opininya menulis, “Penulis sendiri tidak pernah menyebut nama orang dalam serial tulisan. Kita masih sangat menghormati ketokohannya meski namanya kerap muncul dalam dugaan kuat adanya mafia di waduk Lambo.” Namun, pada kalimat sebelumnya, Steph Tupen Witin menulis, “Saya heran, justru orang-orang yang sangat memuja-muji Serfolus Tegu melebihi dewa gelap, entah sadar atau tidak, membuka tabir ‘orang kuat Jakarta’ itu” demikian narasi dalam opini Pater Steph.
Menanggapi, tulisan tersebut, Valens mengatakan, Pater Steph secara tidak langsung membenarkan tudingannya bahwa yang dimaksud ‘orang kuat Jakarta’ adalah sosok GM. “Dalam konteks ini, saya perlu menjelaskan bahwa keterlibatan Pak GM dalam urusan Waduk Lambo hanya dalam upaya meredam penolakan warga (yang gagal dilakukan pemerintah daerah saat itu)” jelasnya.
Keterlibatan, GM di PSN Waduk Lambo kata Valens, bermula sejak tahun 2016 saat GM menjabat sebagai Staf Khusus Presiden. GM melihat bahwa dari pembangunan 7 Waduk di NTT, hanya ada penolakan oleh warganya terjadi di Lambo, Kabupaten Nagekeo.
Setelah terjadi penolakan kuat oleh sebagian warga Lambo, sampai membakar alat berat pemerintah serta adanya demo penolakan ibu-ibu warga Lambo yang bertelanjang dada di depan aparat keamanan, GM bersama Jenderal Jacki Uly turun ke lokasi yang sudah tidak mau menerima Bupati/Pemda dan Polres Ngada kala itu menemui para warga penolak dibangunnya waduk Lambo.
Dalam tatap muka GM dengan warga Lambo penolak pembangunan waduk Lambo, ditemukan kesimpulan bahwa warga setempat belum mendapat sosialisasi tentang manfaat pembangunan bendungan dan aoa saja yang terdampak dari pembangunan tersebut.
Setelah itu berulang kali sampai 30-an kali sejak tahun 2017 Pak GM turun ke lokasi Lambo mengajak berbagai pihak untuk melakukan sosialisasi menemui warga di lokasi Lambo, bahkan sampai mengajak perwakilan warga Lambo (yang menolak pembangunan waduk Lambo) ke Jawa meninjau bagaimana pembangunan bendungan Jatiluhur dan bendungan Jatigede di Jawa Barat.
“Warga yang menolak juga diajak bertatap muka dengan Menteri PUPR dan memperoleh penjelasan langsung dari Menteri tentang manfaat bendungan” urai Valens.
Menunjuk Iptu Serfolus Tegu
Dalam beberapa serial essay berkaitan dengan dugaan mafia Waduk Lambo yang menyeret nama GM, Pater Steph Tupen kerap menyebut Kabag OPS Polres Nagekeo Iptu Servolus Tegu.
Valens tidak membantah, GM punya hubungan spesial dengan Servolus Tegu, yang mana, GM menunjuk Servolus yang kala itu menjabat sebagai Kasat Intel Polres Ngada untuk mengurus Waduk Lambo.
“Oleh karena itu kebetulan Kasat Intel Polres Ngada Iptu Serfolus Tegu adalah putera Nagekeo, Pak GM meminta agar Iptu Serfolus Tegu bersungguh sungguh untuk membantu dengan sepenuh hati mendampingi dan mengawal warga di kawasan waduk Lambo sampai terwujudnya pembangunan waduk tersebut’ ujarnya.
“Apalagi Servolus Tegu adalah orang Nagekeo yang diyakini tahu adat Nagekeo dan cara mendekati warga setempat.
Dalam konteks ini, kami menilai Servolus Tegu sukses mengemban misi ini” tambahnya lagi.
Untuk menyukseskan proyek Waduk, GM kata Valens hampir 30-an kali terbang ke Flores, turun ke lokasi. Bahkan belasan tokoh Forum Penolakan Waduk Lambo diterbangkan ke Jakarta, menginap di Hotel Luwansa (Jakarta), meninjau waduk-waduk di Jawa Barat agar melihat sendiri kondisi di sekitar waduk, dan dipertemukan dengan Menteri PUPR Pak Basuki.
“Saya tahu persis semua upaya ini karena saya-lah yang mengurusnya di Jakarta. Ketika terjadi dialog dengan para tokoh penolakan itu di Hotel Luwansa, saya sendiri yang mendampingi Pak GM” bebernya.
Tuduhan Mafia Harus Dibuktikan
Tudingan adanya mafioso ala Sisilian Mafia (Italia), Yakuza (Jepang) dalam pusaran proyek waduk Lambo kerap disematkan Pater Steph Tupen dalam belasan edisi opininya.
Bagi Valens, mengenai keberadaan mafia di Nagekeo adalah tuduhan serius yang harus dibuktikan secara pidana. Oleh karena itu, Ia mendesak Peter Steph bila memiliki bukti yang kuat, silakan membawa masalah tersebut ke ranah hukum.
“Buktikan dengan data jelas dan konkret adanya mafia di Nagekeo. Jangan mengada-ada dengan dalih membela rakyat kecil” katanya.
Kemudian, berkaitan dengan membela rakyat kecil, jangan berpikir GM selama ini hanya tidur saja. Pak GM sangat sering membantu orang kecil secara riil-konkret. Itu bukan karena Pak GM “memberi dari kelebihan” seperti dituduhkan STW, tapi karena beliau memiliki sahabat-sahabat baik yang bisa membantu.
“Kami juga sering membantu pastor, suster dan uskup. Saya ingat, ketika Uskup Agung Ende Mgr. Sensi Potokota (Alm) mengadukan masalah hukum terkait aset Keuskupan Agung Ende di Jakarta, saya ditunjuk Pak GM untuk bantu menanganinya” katanya.
Saya dan staf saya dari VDS Law Firm menyaksikan sendiri, saat makan siang dengan Bapa Uskup Sensi di sebuah restoran di Jakarta, Pak GM langsung menelepon/memanggil seorang perwira menengah Polda Metro (kini beliau berpangkat bintang tiga) agar langsung merespons Bapa Uskup.
GM kata Valens juga pernah membantu Uskup Larantuka yang berkaitan dengan suatu urusan/masalah. Masih banyak yang kami bantu, namun kami sebenarnya dan memang senyatanya kami tidak perlu mengungkap semuanya.
Sesungguhnya bukan karakter Pak GM bercerita tentang kebaikannya. Namun, saya-lah yang terpaksa membuka ini untuk menanggapi kecurigaan dan tuduhan STW yang sangat berlebihan.
GM Tidak Ada Kaitannya Dengan Dugaan Kasus Serfolus
Valens juga menolak pengaburan isu yang menghubungkan masalah/urusan personal AKP Serfolus Tegu dengan Pak GM. Urusan pribadi AKP Serfolus Tegu terkait Kafe Coklat dan lain-lain tidak ada hubungan dengan Pak GM.
“Pak GM malah tidak tahu adanya kafe itu. Itu hak ST untuk berbisnis, dan jika ada masalah tidak mesti dikait-kaitkan dengan Pak GM. Begitu juga dalam urusan pembangunan di waduk Lambo, jika ada masalah di sana itu urusan pemerintah atau otoritas terkait. Tidak perlu dan tidak mesti ditaut-tautkan dengan Pak GM” ujar Valens.
Valens pun bertanya, atas dasar apa Pater Steph menuding Pak GM sebagai “orang kuat di Jakarta” yang jadi backing (beking) “mafia Waduk Lambo”? Sekali lagi, dengan catatan tegas: STW harus mampu menunjukkan evidensi kuat tentang mafia yang dituduhkan itu.
“Kepada saya, Pak GM menegaskan dirinya tidak tahu apa itu “mafia waduk Lambo” dan sama sekali tidak ada kaitan dengan apapun itu. Dalam chat WA beliau kepada saya, Pak GM menulis, “Lens, saya tidak tahu apa itu mafia waduk Lambo dan tidak ikut-ikutan dengan itu” urainya.
Soal Bantuan Finansial
Menurut Valens, dalam tulisannya Pater Steph mengakui menerima bantuan finansial dari Pak GM tapi kemudian mempertanyakan motif Pak GM memberikan bantuan sosial (baca: berbuat baik). Baginnya, narasi tersebut membangun sinisme dan meragukan motif pemberian dari pejabat publik. Pada saat yang sama, ia mengaku telah menerima sumbangan dari Pak GM.
Kata Valens, Pater Steph mempertanyakan sumber dana Pak GM. Ini menunjukkan sikap yang hipokrit, munafik sebab di satu sisi Ia menerima bantuan bulanan tapi mempertanyakan asal dana bantuan.
“Menilai dan mencurigai Pak GM dalam hal sumber dana sambil tetap menerima bahkan masih “menagih” jatah bulanan pada 5 November 2025 — adalah bentuk “split personality”, kepribadian ganda” katanya.
Valens menjelaskan, GM adalah seorang pensiunan jenderal yang memiliki banyak relasi dan jejaring. Di ujung pengabdian formalnya, Pak GM diangkat menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan oleh Presiden Jokowi, 2016-2019. Sejak pensiun 2012, beliau diangkat menjadi Komisaris di beberapa perusahaan. Itulah sumber dananya, dan bukan dari sumber “kotor” yang muncul dalam “prasangka dan pikiran kotor”.
“Saya saja yang bukan jenderal, orang biasa saja, punya perusahaan sendiri dan karenanya memiliki penghasilan, yang sering kami salurkan dalam bentuk bantuan sosial: beasiswa dan lain-lain. Apalagi seorang jenderal berpengaruh yang wajar saja punya jejaring kuat” katanya.
Terakhir, tanggal 5 Nov 2025 STW masih menagih “jatah bulanan”-nya untuk bulan November 2025. Sekarang mempertanyakan dan mencurigai uang dari mana.
Ternyata ada “ciptaan Tuhan seperti STW” yang selama bertahun-tahun beriba-iba meminta bantuan dan setelah dipenuhi semua permintaannya selama ini dengan di kirimi bantuan secara terus-menerus bahkan sampai sudah terima bulanan, belakangan malah mempertanyakan dan mencurigai “sumber uang” yang diterimanya.
“Sebenarnya, dalam hal memberi dan bersedekah, Pak GM selalu berpedoman pada firman Tuhan yang tertulis dalam Injil Matius 6:3: “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” tanya Valens.
Namun, karena hati STW penuh dengan “hasrat nenyerang”, fitnah dan dengki yang bertubi-tubi kepada setiap orang, maka Pak GM merasa perlu agar sifatnya yang materialistis yang tidak selayaknya dimiliki oleh seorang imam perlu diungkap kepada publik.
Pak GM selama ini sudah banyak membantu orang tanpa pernah memberitahukan siapapun. Saya termasuk staf yang tahu tentang kebiasaan dan kedermawanan Pak GM, namun beliau tak pernah mengungkapkan itu kepada banyak orang.
Pak GM terpaksa membuka fakta itu karena sikap tak tahu diri Pater Steph yang sudah melampaui batas. menunjukkan sikap nir-etika. Di satu sisi menerima “jatah bulanan” dari Pak GM, tapi serentak di sisi lain STW menyudutkan bahkan mencoba mencederai reputasi pribadi Pak GM dengan memfitnah GM sebagai “orang kuat” di balik mafia-mafiaan.
Kalau STW selalu menyebut orang kecil di waduk Lambo yang menjadi korban mafia, dapatkah yang bersangkutan dengan jelas menunjuk dan menyebut siapa saja orang-orang kecil itu? Bukankah para korban terdampak telah menerima ganti untung yang layak, dan masih ada sejumlah orang yang sedang dalam proses hukum dan Anda hanya perlu menunggu hasilnya.
Informasi Provokatif
Valens mengingatkan Pater Steph Tupen berhati-hati menjadi pahlawan kesiangan yang seolah pro orang kecil. Sebagai orang luar Nagekeo Pater Steph kata Valens tidak tahu tentang kondisi internal Nagekeo. Namun, jika yang bersangkutan tampak tahu, itu dipastikan karena mendapat suplai “info provokatif” dari pihak-pihak yang ingin memetik manfaat tertentu dari situasi ini.
Valens mengaku sudah tahu itu karena yang mempunyai mata dan telinga bukan hanya Pater Steph yang tinggal di Lembata, namun menulis tentang Nagekeo tanpa investigasi langsung di lapangan. Saya simpulkan, STW menulis berdasarkan masukan dari orang di Nagekeo dan/atau orang Nagekeo tertentu di diaspora apapun motifnya. STW hanya dijadikan corong yang bersuara kencang demi kepentingan tertentu.
Tidak Anti Kritik
GM kata Valens sebenarnya tidak anti kritik. Bahkan sebagai mantan anggota Polri yang telah menduduki berbagai jabatan strategis, Pak GM sudah terbiasa menyikapi berbagai kritikan. Bukan cuma kritikan apalagi tuduhan tanpa dasar oleh Pater Steph.
Pada tahun 2004 pasca Bom Bali I dan II, dalam suatu dokumen yang ditemukan aparat Polri, Pak GM ada pada nomor 1 dalam Daftar Target para teroris yang berafiliasi pada Kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Kapolri malah ada pada nomor 2.
“Begitu juga, Pak GM pernah coba diserang dengan “Bom Buku”.Terakhir, pernah pula beliau menjadi target pembunuhan bersama beberapa pejabat tinggi lainnya beberapa tahun lalu, jadi, Pak GM tidaklah anti kritik” beber Valens.
Namun kritik yang benar harus berbasis fakta dan bukti. Narasi besar membutuhkan dasar kuat. Sebagai staf khusus Pak GM, saya mendesak agar STW menghentikan penyebaran opini yang mengaburkan fakta, berhenti memproduksi tuduhan tanpa dasar, dan mengembalikan pernyataannya pada koridor data serta akuntabilitas publik.
“Akhirnya, kepada semua pembaca yang beragama Kristiani kami ucapkan selamat Adventus. Kita menyongsong Natal sambil ber-“metanoia”, bertobat, mengosongkan diri dari segala dosa, termasuk fitnah dan prasangka negatif” pungkasnya.











