Nagekeo, FloresFiles.com— Pemerintah Kabupaten Nagekeo NTT, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Lokakarya refleksi ekosistem pendidikan yang dilaksanakan di aula Setda Nagekeo Jumat 10 Oktober 2025.
Kegiatan yang yang diinisiasi oleh INOVASI ini dalam rangka memperkuat kolaborasi dan melakukan refleksi terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu pembelajaran, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo bersama INOVASI Fase Ill.
Bagus Dharmawan selaku District Officer INOVASI menyebut kegiatan bertujuan merefleksikan kembali 18 poin kesepakatan antara ekosistem pendidikan di periode April 2025 dengan tema manajemen kelas dan buku, manajemen kepemimpinan satuan pendidikan, pengembangan pendidikan guru dan calon guru serta anak tidak sekolah dan perubahan iklim.
Dia memaparkan, kegiatan tersebut menghasilkan kurang lebih 12 rekomendasi diantaranya Pelaksanaan Diklat Calon dan Kepala Sekolah Terjadi di Daerah Secara Daring dan atau Luring di Nagekeo.
Lokakarya mendorong pembiayaan penguatan kapasitas TPPK melalui Dana BOS berdasarkan Permendikbudristek Nomor 46 tahun 2023 serta Pendataan akses air bersih di satuan pendidikan.

Bagus menyebut, kedepan diharapkan ada kolaborasi untuk kegiatan PHBS, TPPK, Pendidikan Perubahan Iklim di satuan pendidikan dan kolaborasi pengentasan ATS dan dukungan bagi anak dengan hambatan belajar juga perluasan cakupan layanan internet bagi sekolah yang masih dalam kategori blind spot.
Diharapkan ada pelaksanaan pelatihan koding dan KA untuk guru pada sekolah-sekolah yang belum dijangkau dan melakukan pendekatan atau follow Up mengenai MoU yang telah disepakati sebelumnya tentang pelaksanaan KKN Tematik Bahasa Ibu.
Lokakarya juga mendorong pelaksanaan riset tentang pengembangan Praktik pengajaran dengan Bahasa ibu pada sekolah di kecamatan lain yang telah melaksanakan praktik Bahasa ibu pada kelas awal, mendorong Penetapan Perda Inisiatif Perbukuan.
“Kita juga mendorong Pemerintah Desa terlibat aktif dan mengalokasikan anggaran kegiatan di desa terkhususnya dalam lansekap pendidikan dan aksi-aksi perubahan iklim yang nyata” katanya.
Bagus menyebut, peserta Lokakarya juga bersepakat memulai diskusi awal terkait pembentukan pokja tematik (literasi, perubahan iklim, TIK) tingkat desa sebagai wadah berbagi praktik baik pembelajaran dan informasi.
Keberpihakan Anggaran
Lokakarya yang berlangsung seharian penuh itu diikuti oleh peserta dari Dinas sosial, Dinas Dukcapil, Perpus, PK, Bapeda, Plan Indonesia, Dinkes, ACT Sea, STKIP Citra Bakti, Perwakilan Kepala Sekolah dan guru dari wilayah kota dan terpencil Komisi 3 DPRD, BKPP, PGRI, dan organsiasi.
Dalam pertemuan itu, para peserta pada akhirnya memahami bahwa ketiadaan anggaran akibat kebijakan efesiensi menjadi mendalam pelaksanaan lapangan tidak berjalan maksimal.

Oleh karena itu, dengan adanya Lokakarya tersebut diharapkan ke depannya Pemerintah mampu menggerakkan semua elemen untuk berjibaku bersama semua stakeholder terutama keberpihakan anggaran.
“Harusnya ini menjadi langkah awal untuk kolaborasi yang lebih intens entah itu anggaran dari mana yang penting bisa berjalan baik. Bagaimana Pemda bisa lebih sering menggandeng semua pihak” katanya.
Manager MERL INOVASI, Resita Purba mengungkapkan alasan INOVASI memilih Kabupaten Nagekeo dikarenakan Nagekeo memiliki jumlah sekolah terbanyak dengan kriteria sekolah tangguh dan sekolah transformasi. Sekolah tangguh dimana sekolah dengan fasilitas terbatas tapi raport pendidikannya bagus.
“Untuk tahun 2025 Raport Pendidikan Nagekeo berada pada urutan 2 Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur” bebernya.
Kabupaten Nagekeo selama 3 tahun berturut-turut raport pendidikannya hijau yang meliputi literasi, numerasi dan pendidikan karakternya, meski berada pada kategori sosial ekonomi terbatas.
Dukungan Pemda
Sementara itu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus mengatakan pendidikan adalah fondasi utama bagi kemajuan daerah. Apa yang dilakukan dunia pendidikan saat ini akan menentukan seperti apa wajah Kabupaten Nagekeo di masa depan.
“Lokakarya ini sebagai ruang strategis untuk memperbaharui kesepakatan dan sinergi lintas sektor dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat, adaptif, dan berdaya saing” ungkap Simplisius.
Melalui lokakarya reflektif ini diharapkan dapat mempertajam dan memperbaharui kesepakatan sistemik lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, hingga masyarakat serta memperbaiki kinerja rapor pendidikan Kabupaten Nagekeo di tahun 2026.
Hal ini sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan, khususnya pada tiga aspek fundamental yakni Literasi, Numerasi, dan Penguatan Karakter bagi anak-anak Sekolah Dasar.

Pemerintah Kabupaten Nagekeo menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama dalam visi dan misi daerah sebab investasi terbesar suatu bangsa adalah investasi dalam pendidikan anak-anaknya.
“Karena itu, segala bentuk dukungan dan kolaborasi seperti yang dijalankan hari ini merupakan bagian penting dari strategi besar pemerintah dalam membangun Nagekeo yang lebih maju, berdaya saing, dan berkarakter” katanya.
Dia mengapresiasi setinggi-tingginya kepada INOVASI Fase III serta seluruh pihak yang telah berperan dalam kegiatan ini dan mengajak seluruh peserta menyatukan langkah dan memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan mitra pembangunan.
“Dengan penuh semangat, terbuka terhadap perubahan, dan berani melakukan refleksi mendalam. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk menyatukan langkah dan memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan mitra pembangunan” pungkasnya.











